Tag

, , , , , , , , , , ,

Seberapa pentingkah mengetahui cara menjadi seorang Pembicara Public Speaking yang handal? Mari kita simak kisah menarik dibawah ini, semoga bermanfat.

Suatu kesempatan di sebuah Desa di Provinsi Jawa Timur mengundang seorang pembicara untuk memberikan ceramah dalam sebuah kegiatan akbar. Pembahasan yang disampaikan begitu penting bagi kebangkitan warga Desa sekitar. Hanya saja dikarenakan penyampaian materi yang tidak begitu mengasyikkan, maka warga Desa begitu sulit menangkap maksud sang pembicara. Warga sekitar banyak yang mengantuk dan tidak memperhatikan hingga berkomentar “keduhuren mas bahasane, gayane monoton” (ketinggian bahasanya mas, pematerinya monoton).

Pada kesempatan lain, pembicara lain pun menjadi pilihan dari panitia untuk memberikan materi pada Desa yang sama. Kali ini, sang pembicara dikenal dengan gaya kocak dan leluconnya saat menyampaikan materi. Kegiatan berjalan dengan begitu lancar dan penuh sorak tawa. Seusai memberikan ‘pencerahan‘ warga pun berkomentar dengan sumringah “wenak tenan mas, pematerine luocu tenan, koyok pelawak nang TV”Ā (enak sekali mas, pematerinya lucu banget, seperti pelawak di TV).

Pada kisah diatas menunjukkan bahwa dengan materi yang sama-sama penting dihasilkan dua jenis output yang sama (sama-sama tidak tepat sasaran) dan dua kasus yang berbeda. Padahal hasil yang diinginkan oleh siapapun yang menyampaikan materi adalah para pendengar (audien) dapat mencerna dan memahami setiap materi yang disampaikan, betul apa betul?

Namun, pemateri pertama dikarenakan tidak menguasai teknik penyampaian materi (delivery) serta mengelola audien maka materi yang disampaikan menjadi monoton dan tidak mengasyikkan bagi audien. Sehingga banyak audien yang mengantuk dan merasa bosan. Kejadian ini juga sering kita temui di dunia formal seperti seminar, training, workshop dan termasuk dalam dunia belajar mengajar di kelas. Lain hal nya pada pemateri kedua, dikarenakan keasyikan baginya untuk membuat lelucon, malah materi inti yang menjadi tujuan utama akhirnya terkaburkan. Audien lebih mengingat guyonan yang diberikan ketimbang konten inti dari materi. Jika begini yang terjadi kenapa tidak mengundang dagelan saja sekalian, betul apa betul? šŸ™‚

Padahal, penelitian membuktikan bahwa 83% pendengar atau konsumen, mengambil dan membeli sesuatu dikarenakan kemahiran para pembicara atau penjualnya dalam menyampaikan atau menawarkan, asyik apa asyik?šŸ™‚

Maka, latihlah kemampuan Public Speaking kita selalu. Selamat menikmati.šŸ™‚